KEEP PRAY, SMILE & SPIRIT ^_^
DO THE BEST 4 TODAY!!!

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Januari 17, 2009

KITA SEMUA ADALAH PEMENANG

Sadarkah anda,... bahwa sewaktu kita menjadi benih manusia kita adalah 1 sel sperma yang diantara 250 juta sel sperma yang lainnya yang terunggul dan tercepat mencari dan menembus dinding sel telur yang terbaik,lalu sel telur akan mengeras dan dinding sel telur tidak bisa ditembus oleh sel sperma lainnya..kita mengalahkan 250 juta calon saudara kita sendiri, sebanyak itu? Mungkin ada yang jadi Dokter, Engineer, Dosen, Pegawai negeri, Manager, Direktur, Usahawan, Gubernur, atau bahkan jadi Presiden.

Sudahkah anda mensyukuri potensi diri anda?? Syukur adalah berusaha menerima dan juga mengejar keadaan yang lebih baik. Syukur adalah usaha keras, usaha cerdas dan usaha ikhlas dari manusia untuk menjadi yang terbaik di muka bumi ini.

Kesuksesan adalah hak setiap orang, jika orang lain bisa sukses maka sudah pasti kita juga bisa sukses. Sukses sudah ada di dalam diri kita sejak proses penciptaan manusia. Allah sang maha Pencipta telah menetapkan anda yang yang terunggul untuk mengisi dan memanage dunia ini. Jangan sia-siakan potensi anda. Bangkitlah sekarang juga .. jangan ditunda…!!!

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Maret 01, 2008

Monumen Kebaikan

Monumen Kebaikan
Lufti Avianto


Lihatlah diri kita hari ini. Perhatikan tiap lekuk diri dan tabiatnya, perangai dan sikap, watak dan karakter, juga fisik dan tekstur hati di dalamnya. Kemudian, renungkanlah tentang diri kita, peran kita, kontribusi, juga atribut lain yang membawa kita pada kebaikan. Siapa pun kita, adalah hasil rekontruksi pengalaman dan pendidikan yang kita kecap sebelumnya di masa lalu.

Si tukang semir, akan berkarya dengan kemampuannya. Menyemir sepatu setiap hari, tidak hanya untuk makan sehari-hari, tetapi lebih dari itu. Ia membuat sepatu-sepau berkilap dan enak dipandang mata. Sepatu pejabatkah, karyawan, pegawai negeri, bahkan siapa pun mereka yang ingin tampil necis dan rapi. Dan dengan itu, si tukang semir memiliki monumen kebaikan yang dapat dibanggakan, sepatu-sepatu yang berkilap.

Atau sesekali, longoklah si penjaga pintu kereta api. Begitu remeh nampak pekerjaannya. Tak memerlukan keahlian khusus. Tak perlu mengenal komputer, apalagi ijazah sarjana strata satu. Syaratnya cuma satu, yang penting mau menunggu kereta dengan jadwal yang sudah ditetapkan, entah malam atau siang. Pekerjaannya pun terbilang sederhana kalau tak pantas disebut monoton. Hanya menunggu instruksi lewat radio akan kedatangan kereta, lalu menutup palang perlintasan jalan agar para pengguna jalan tak melaluinya. Selesai. Namun, pernahkah kita tahu bahwa di Indonesia masih banyak lintasan kereta yang tak dijaga? Akibatnya, banyak nyawa yang melayang sia-sia dari kecelakaan kereta dengan mobil atau motor yang melintasinya.

Ada lagi penyapu jalanan. Setiap pagi, ia bangun sebelum ayam berkokok dan matahari menyapa manusia. Dalam gelap dan dingin pagi yang masih dini, menggigiti mereka menyusuri jalan-jalan dan trotoar yang kotor dengan sampah hari kemarin. Sapu yang mereka genggam, adalah kebaikan yang mengalir pagi itu menjelang matahari meninggi. Dan begitu setiap hari, tanpa presensi. Sehingga, setiap hari yang mereka lalui adalah keindahan hari buat kita saat melalui jalan-jalan dan trotoar kota yang bersih, serta membuat kita begitu bersemangat ketika berangkat ke kantor setiap pagi.

Siapa pun kita, anda atau pun saya. Pekerjaan kita, status kita, atau titel kita dalam himpunan masyarakat yang luas sekalipun, adalah pengrajin-pengrajin dalam monumen kebaikan. Tukang semir sepatu atau penjaga pintu lintasan kereta hanyalah potret kecil dari kalangan masyarakat yang kerap dimarjinalkan, namun memiliki monumen kebaikan yang dapat dibanggakan.

Tak dipungkiri, kelak, saat di Hari Penghisaban, Allah SWT akan memanggil mereka dengan sebutan yang paling indah, Ahli Kebaikan. Kemudian, dihadapkan kepada mereka monumen kebaikan yang tinggi menjulang nan indah yang mampu membuat iri jutaan manusia lainnya.

Lalu, bagaimana dengan para pemimpin, pengusaha, eksekutif muda, dan direktur yang memimpin sebuah perusahaan kebaikan? Seharusnya, di tangan-tangan merekalah kebaikan itu menjadi sebuah komoditi utama setiap pribadi muslim yang hanif. Kebaikan yang menjadi barang konsumsi utama namun tak langka atau mahal yang dapat dijangkau masyarakat miskin sekalipun. Sehingga, setiap kita memiliki monumen kebaikan yang patut dibanggakan di hadapanNya kelak.
Insya Allah....Amin


From : trityatmo bowolaksono bowolaksono [bowltea@yahoo.com]

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, Februari 16, 2008

Sedih pada tempatnya (renungan...)

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan sepele seputar duniawi; bersedih karena sedikitnya harta, bersedih karena belum mendapatkan jodoh, bersedih karena belum memiliki anak, bahkan ada yang bersedih karena tim sepak bolanya kalah. Padahal dunia ini tempat persinggahan sementara.

Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk surga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya. Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan.

Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian, mereka mensyukurinya dan merasa cukup (qana'ah) dengannya. Sebut saja misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi'ah al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup melajang hingga wafatnya, tapi mereka tidak bersedih karena belum menikah. Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia meratap karena tidak dikaruniai anak.

Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari materi duniawi, melainkan dari kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT. Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita. Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gejolak dalam jiwa kita.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi'in yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya. Ia lalu bertanya, ''Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit yang kau alami?'' Tabi'in itu menjawab, ''Lebih dahsyat dari itu.'' Orang tadi bertanya lagi, ''Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang anggota keluargamu meninggal dunia?'' Tabi'in itu menjawab, ''Lebih dahsyat dari itu.'' Orang itu bertanya lagi, ''Apakah kamu kehilangan hartamu?'' Tabi'in itu menjawab, ''Lebih dahsyat dari itu.''

Laki-laki itu pun berkata sambil terheran-heran, ''Lalu, apakah yang lebih dahsyat dari semua itu?'' Tabi'in itu menjawab, ''Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam (tahajud).''

Semestinya memang itulah yg harus kita sedihkan ......

Shalat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih, tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah. Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat mengerjakannya.

Kita bersedih mestinya karena bekal untuk akhirat belum terisi penuh, padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik.


From : Pramono (PPIC) [pramono@btg.co.id]

[+/-] Selengkapnya...

Hidup Tanpa Menuding

Hidup Tanpa Menuding
Penulis : Bayu Gawtama

Konon, salah satu pekerjaan paling mudah di dunia ini adalah menuding alias menyalahkan orang lain di setiap kegagalan yang terjadi. Pengkambinghitaman orang lain kerap menjadi reaksi pertama setiap kali kita melakukan kesalahan. Terlebih kesalahan itu berefek besar terhadap kepentingan banyak orang. Rupanya, dari hal kecil semacam mendapat hasil buruk dalam ujian matematika, hingga urusan keretakan rumah tangga, selalu ada orang lain yang dianggap ikut andil memunculkan masalah tersebut.

Ketika angka 4 yang tertera di atas lembar nilai ujian matematika, guru sering menjadi alamat tudingan, "Gurunya ngajar nggak becus," atau "Memang sejak lama guru matematika itu sentimen sama saya." Sewaktu gagal masuk perguruan tinggi negeri, mudahnya kita berujar, "Suasana kelas tidak kondusif dan kotor. Jelas sangat mengganggu konsentrasi." Saat kita terlambat memberikan bahan laporan yang diminta atasan, padahal batas waktu yang diberikan sudah lewat, komputer menjadi sasaran. "Komputernya error terus, pak." Presentasi yang gagal dan menyebabkan kerja sama dengan pihak lain tidak terealisasi, rekan sekerja pun tertuding, dianggap tidak banyak membantu.

Begitu juga dalam rumah tangga. Soal tuding menuding ini nampaknya sudah lumrah terjadi. Anak kesayangan pulang sambil menangis dan mengaku dipukul teman bermainnya, sang ibu pun mencak-mencak dengan sejuta makian tanpa mau tahu siapa yang salah dan siapa yang memulai. Bahkan kehancuran mahligai rumah tangga pun tak jarang memunculkan orang ketiga sebagai kambing hitamnya. Padahal bisa jadi, berbagai kekurangan yang terlupa kita tutupi selama bertahun-tahun berumahtanggalah yang sebenarnya menjadi penyebab utama.

Dalam kerja tim pun demikian. Agar terhindar dari penilaian buruk atas prestasi kerja kita, maka partner kerja pun dijadikan alasan kegagalan dalam laporan kepada atasan. Kita lupa, bahwa kesuksesan maupun kegagalan kerja tim, yang dinilai adalah tim itu sendiri, bukan individunya. Kegagalan anggota tim, pasti ada andil pimpinan tim yang menyebabkannya. Dan siapa pun yang menjadi pimpinan tim, harus siap menanggung resiko lebih besar. Bukankah pimpinan tim juga mendapatkan keuntungan lebih besar dari keberhasilan yang dicapai?

Cobalah telusuri lagi setiap permasalahan yang terjadi, pasti ada celah kesalahan yang alpa kita antisipasi dan itu benar-benar murni kesalahan kita. Masalahnya, seringkali mata ini tertutupi oleh rasa kecewa yang begitu besar sehingga tak mampu melihat permasalahan lebih jernih. Kalaulah kita sudah mengantisipasi setiap inci faktor penyebab kesalahan pada diri sendiri, jangan-jangan kita lupa mengingatkan anggota tim lainnya untuk melakukan hal yang sama, meminimalisir faktor kesalahan.

Hidup tanpa menyalahkan atau menuding orang lain di balik kegagalan yang terjadi semestinya dibiasakan.

Sejak detik ini, dan mulai dari diri sendiri. Jika kita mampu menerapkannya dalam diri, barulah mengajak anggota keluarga yang lain untuk memulainya. Terus berlanjut ke lingkungan sekitarnya untuk menularkan kebiasaan ini. Duh, indahnya membayangkan sebuah kampung yang berisi orang-orang yang mau berunjuk diri dan berani mengakui kesalahan tanpa menuding orang lain. Nikmatnya hidup di sebuah negeri yang masyarakatnya berani berdiri paling depan untuk bertanggungjawab atas kegagalan, kekeliruan, dan kealpaan yang terjadi. Tentu teramat bahagia jika kita sendiri yang mau memulainya; hidup tanpa menuding.
Pasti bisa....!!!!


From : trityatmo bowolaksono [bowltea@yahoo.com]

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, Desember 18, 2007

Jangan Mengeluh !!!

SEBELUM KAMU MENGELUH

01]. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

02]. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

03]. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.

04]. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.

05]. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

06]. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

07]. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

08]. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan

09]. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

10]. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11]. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,

12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !

a. Life is a gift
b. Live it...
c. Enjoy it...
d. Celebrate it...
e. And fulfill it.

13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu

14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena anda mencintainya,,,

16]. It's true you don't know what you've got until it's gone, but it's
also true You don't know what you've been missing until it arrives!!!


From : Wahyu Cahyo Purnomo

[+/-] Selengkapnya...

Google