KEEP PRAY, SMILE & SPIRIT ^_^
DO THE BEST 4 TODAY!!!

Sabtu, Agustus 25, 2007

CINTA LAKI-LAKI SEUMPAMA GUNUNG, CINTA PEREMPUAN SEUMPAMA KUKU

Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan,
sayangnya, rentan. Sewaktu-waktu ia bisa saja meletus memuntahkan
lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan
seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan,
diam-diam dan terus menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan
tumbuh lagi.


Perumpamaan di atas terilhami melalui sebuah dialog dalam adegan
film Bulan Tertusuk Ilalang karya Garin Nugroho. Betapa menakjubkan.
Dan kalimat itu mengingatkan saya pada kenangan tentang sahabat saya
dan mamanya ketika masa-masa SMP-SMU dulu.
Kala itu, nyaris setiap hari saya main ke rumahnya yang jauh di
selatan kota. Saya tahu dia anak orang kaya. Papanya, pimpinan
sebuah instansi pemerintah terkemuka di kota saya, dan mamanya
adalah ibu rumah tangga biasa. Saya tak heran mendapati
barang-barang bagus dan bermerk di rumahnya yang masih dalam tahap
renovasi. Sofa yang empuk, televisi yang besar. Saya hanya bisa
berdecak kagum sekaligus iri.


Tapi, lama-lama saya menyadari bahwa isi rumah itu makin kosong dari
hari ke hari. Perabotan yang satu per satu lenyap dan televisi yang
"mengkerut" dari 29 inchi ke 14 inchi. Perubahan paling mencolok
adalah wajah mama sahabat saya. Suatu saat ketika ia berbicara, tak
sengaja saya dapati bahwa mama sahabat saya itu kini ompong!
Kira-kira 2-3 gigi depannya hilang entah kemana.
Saya tak berani, lebih tepatnya tak tega, untuk bertanya. Saya juga
tak mau tergesa-gesa mengambil kesimpulan sendiri. Yang jelas,
sebuah suara, jauh di lubuk hati saya bergema: "Sesuatu yang buruk
telah terjadi di rumah itu!" Benarlah, tanpa diminta akhirnya
sahabat saya datang berkunjung ke rumah. Setengah berbisik, manahan
tangis, ia bercerita bahwa papanya selingkuh dengan perempuan lain
dan karenanya, nyaris tak pernah pulang ke rumah. Dan ini bukan
main-main, perempuan itu hamil dan menuntut pertanggung jawaban
papanya.


Dengan emosi ia bercerita bahwa papanya mengajaknya ke rumah
perempuan itu dan meminta sahabat saya untuk memanggilnya dengan
sebutan "Mama". Sebuah permintaan menyakitkan yang langsung ditolak
mentah-mentah oleh sahabat saya. "Mamaku cuma satu!" tangkisnya
tegar saat itu. Dan misteri tentang gigi mamanya yang tiba-tiba
ompong, barang-barang mewah dan perabot yang satu per satu
menghilang dari rumahnya pun terkuak sudah. Semuanya adalah akibat
ulah papanya jua.


Dan setengah frustasi ia mengadu pada saya bahwa ia harus menanggung
semua beban berat itu sendirian karena kakak satu-satunya yang
kuliah di luar kota tak peduli dan tak mau memikirkan masalah itu.
Mamanya pun "yang lemah lembut" tak bisa berbuat banyak dengan
kelakuan suaminya. Ia cuma bisa pasrah, gigi yang ompong itu
buktinya. Dan saya? Hanya doa dan motivasi yang bisa saya berikan
agar sahabat saya itu tabah dan tak putus berdoa.


Toh sekarang, setelah lama peristiwa itu berlalu, doa sahabat saya
pun dijawab oleh Tuhan. Ketika itu menjelang kelulusan SMU, ia
bercerita pada saya bahwa papanya sudah "sembuh", bertobat, dan
kembali ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Nasib the other women
itu entah bagaimana. Sampai di sini persoalan beres. Dan saya takjub
mendengarnya, senang sekaligus heran.


Bagaimana mungkin masalah pelik ini bisa selesai semudah itu? Nurani
keadilan saya berontak. Saya tak habis pikir, betapa mudahnya mama
sahabat saya itu memaafkan dan menerima kembali suaminya setelah
semua yang dia lakukan. Lelaki itu tak cuma berkhianat, tapi juga
menyakiti fisiknya, merontokkan gigi-gigi depannya, tak menafkahi
anak-anaknya dan nyaris mengosongkan isi rumahnya. Dan ia
memaafkannya begitu saja?! Sebuah kenyataan yang ternyata banyak
juga saya temui di masyarakat kita. Perselingkuhan dan kekerasan
dalam rumah tangga yang bisa diselesaikan dengan mudah, hanya dengan
kata maaf. Mungkin inilah yang disebut orang sebagai "CINTA"
Papa sahabat saya adalah laki-laki dengan cinta sebesar gunung, dan
ketika ia meletus, laharnya meluap ke mana-mana, menghanguskan apa
saja, melukai fisik dan terutama hati dan jiwa istri dan
anak-anaknya.


Mama sahabat saya adalah perempuan dengan cinta sebesar kuku. Memang
cuma seujung jari, tapi cinta itu terus tumbuh, tak peduli jika kuku
itu dipotong, bahkan jika jari itu cantengan dan sang kuku terpaksa
harus dicabut, meski sakitnya tak terkira, kuku itu akan tetap
tumbuh dan tumbuh lagi.


Sebuah cinta yang mengagumkan dari seorang perempuan yang saya yakin
tak cuma dimiliki oleh mama sahabat saya itu. Cinta yang terwujud
dalam sebuah tindakan agung: "Memaafkan". Sebuah tindakan yang butuh
kekuatan besar, butuh energi banyak, yang anehnya banyak dimiliki
oleh makhluk (yang katanya) lemah, bernama perempuan.

Meidy Syahbani Otaya

PT Aplikanusa Lintasarta
Customer Service Departement
Phone : 021 75924000 ext. 3268

Email : mso@lintasarta.co.id

Tidak ada komentar:

Google